Saturday 23 July 2016

Analisis Cerpen Vikers Jepang Karya Nugroho Noto Susanto

ANALISIS CERPEN

Cerpen “Vikers Jepang”
Karya Nugroho Noto Susanto

A.  Satuan Peristiwa Cerpen Vikers Jepang
1.         Pada suatu malam yang kuyup dengan hujan aku pulang dari sebuah rendez-vous.  Sepedaku merk "Philips" buatan Surabaya, keadaannya sudah payah benar. Selain jalannya bergoyang-goyang karena rodanya tidak lurus, rantainya berbunyi pula, membikin lagu yang tidak nyaman. Air hujan merayap masuk via leher baju dan merembes ke dalam via jas hujan "Swan" kwalitet Rp. 90,00 yang tidak waterproof 100%. Dengan sebal aku menyenandungkan lagu "Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting ..." menirukan adikku dari SR kelas 1.
2.         Kota Jakarta di bilangan Bungur Besar kalau malam jam 10.00 dan hujan begini, menmbulkan bayangan-bayangan yang mengecutkan hati seorang laki-laki normal. Karena aku masuk laki-laki normal, aku berusaha mengatasi bayangan-bayangan  seram itu dengan khayalan-khayalan yang nikmat-nikmat. Memang situasi ibu kota pada tahun 1951 belum seaman tahun 1954, dan jam malam juga masih ada pada jam 01.00.
3.         Di dekat emplasemen stasiun Senen, gelapnya seperti di dalam terowongan kereta api. Suara orang berlacur tidak ada di dala gerbong-gerbong yang berserakan di atas ril, Penjual sate Madura dan kueh putu juga semua lenyap. Jalanan sepi seperti kuburan.
4.         Tiba-tiba aku kaget seperti di dalam mimpi. Karena gerak reflex, setang setir goyang, roda-roda kendor tambah oleng dan rem depan tanpa aku rem, mengerem sendiri. Dengan kutukan jahanam aku terdiri ke dalam comberan yang dingin. Segala keributan itu hanya karena ada kucing menyeberangi jalan. Seketika itu juga aku insaf, bahwa hujan agak reda. Lain daripada itu di kejauhan ada sebuah tiang lampu kelip-kelip melegakan hati yang gelap dingin seperti suasana. Karena hal-hal yang menyenangkan itu hatiku jadi besar. Dengan gemas sepeda kukayuh cepat-cepat, meskipun ratapnya tambah tak karuan.
5.         Tapi kegelapan seolah-olah enggan melepaskan aku. Setiap ada simpang jalan menganga, dingin dalam hatiku bertambah sejuk. Rumah-rumah di tepi jalan tertutup rapat-rapat dan hitam oleh ketiadaan cahaya. Aku mengayuh terus cepat-cepat, damba akan lampu jalan.
6.         Aku tahu, masih ada satu jalan simpang lagi sebelum tikungan yang ada lampunya. Jalan  itu sudah dekat. Kira-kira di tempat ada tonggak hitam di tepi jalan.  ya, ada tonggak hitam. Sesungguhnya terlalu besar untuk sebuah tonggak.  Apa tonggak betul ?  Tonggak betul ? Tonggak bergerak ?!  Orang. Tangan kanannya ditentangkan ke samping. Dengan sendirinya aku melambatkan laju sepeda, pedal tak kukayuh lagi. Aku sudah dekat kepadanya. Ia bertolak pinggang besar.
7.         "Stop!" katanya kemudian. "Turun!" Aku menurut dengan patuh. Tiba-tiba tangannya menodong ke muka, suatu gerakan yang tak berguna bagiku, karena tanpa senjata itu pun aku tak sanggup melawan dia, karena tokohnya tokoh seorang Samson. Ia memakai jas hujan militer hijau tetapi pet yang dipakai seperti pet yang kupakai, model sport Inggris. Sosok tubuhnya yang ditekankan menutup mata, persis bandit picisan.
8.         Karena aku orang normal, jantungku mempercepat degupnya dan tenggorokanku kering seperti onderdil sepeda yang tak pernah kena minyak. Bandit picisan itu tak banyak bicara. Ia mendekat perlahan-lahan, seperti kucing mendekatii tikus. Tangan kirinya maju, membuka kancing jas hujanku. Tangan kanannya dengan senjata dekat ke perutku. Ia mulai meraba-raba saku celana. Aku begerak kegelian, karena rabaannya sembarangan.
9.         "Awas!" desisnya marah sambil menyodokkan laras senjatanya ke perutku, yang menyebabkan aku mengeluarkan bunyi yang tak dapat kutirukan. Setelah aku diam kembali, ia meneruskan pekerjaannya yang melanggar undang-undang itu. Mau tak mau mataku tertrik kepada senjata yang di benamkan ke dalam perutku. Bukan revolver, tidk ada silindernya; pistol jadi.  Merk apa ?  Aku terus mempelajari pistol itu, tak perduli dompetku berisi Rp. 12,25 pindah ke sakunya. Karena kami tak jauh benar dari lampu jalan itu, aku dapat melihat, bahwa senjata itu sebuah "Vickers Jepang". Apa nama sesungguhnya, aku tak tahu, tapi di Indonesia pistol itu terkenal dengan nama itu.
10.       Setelah selesai menggeledah pakaiannya, ia menumpahkan perhatiannya kepada arloji tanganku. Karena melihat badanku yang tak seberapa itu, ia tak peduli tanganku kuangkat atau tidak. Ia menggenggam tangan kiriku untuk mencopot arlojinya; sayang bannya agak sukar membukanya kalau dengan tangan satu. Karena itu tangan kanannya ikut maju. Pistolnya sekali waktu membalik, dan terlihat olehku popornya tidak ada wadah pelurunya. Kosong melompong seperti teng bensin bocor.
11.       Serta merta mulutku sudah mengoceh lantang dengan cemooh yang tak tersembunyi, "Wah, nodong kok pakai Vickers Jepang kosong!"
12.       Ia terkejut, sampai arlojiku yang sudah lepas, jatuh ke tanah. Sebentar ia memandangku dengan tak bergerak dan berkata. Kemudian ia mundur selangkah.
13.       "Apa ? Kosong ? Mau rasa, apa ?" aksennya Jawa Tengah.
14.       "Mau diisi satu-satu dari atas, apa ? Angel dong ngokangnya!" jawabku, juga pakai aksen Jawa Tengah.  Dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri karena sikapnya yang ragu-ragu, aku membungkuk dan memungut arlojiku. Ia membiarkan saja.
15.       "Kok tahu ini Vickers Jepang?" tanyanya. Dan aku seperti sudah pernah kenal suara itu.
"Saya pernah pakai kok!"
"Di mana"
"Front MKS."
"Hlo! Front MKS!"
"Tahun 1947."
"Tahun 1947!"
"Agustus."
"Agustus?!"
"Pernah ke puring apa?" tanyaku.
16.       "Puring?! Gombong Karanganyar?!" pistolnya sudah turun samasekali. Dan tiba-tiba aku tahu, siapa dia.
17        "Seksi Bima regu 2! Siapa yang pernah menangis di belakang pohon kelapa takut ambil steling di muka waktu ada serbuan?"
"Mas Nug!!"
"Ya, saya ini."
18.       Ia terpaku di aspal tak bergerak-gerak. Kaget campur malu rupa-rupanya.
19.       "Hla, kamu kok jadi bandit ini gimana, Dik?" tanyaku.
20.       "Ini Mas!" dompetku dikembalikannya kepadaku. Aku masukkan kembali ke tempatnya dan kemudian arloji aku pakai.        Ia diam saja tak menjawab apa-apa. memandang gelisah kepadaku, memperhatikan aku menutup jas hujan kembali. Kemudian sepeda aku dekatkan kepadanya.
"tidak bawa sepeda, Dik?" ia menggelengkan kepala.
"Goncengkan saya kalau begitu," kataku dengan lagak komandan.
21.       Kami duduk berhadap-hadapan dalam salahsatu warung di Medan Senen. Palguno waktu clash I kurus dan masih hijau. Ia anggota reguku. Waktu clash II kami berpisah. Baru sekali ini kami bertemu kembali. Apa yang baru terjadi sangat mengejutkan, karena Palguno adalah Raden Ngabehi Palguno, putra kedua seorang pensiunan bupati.
22.       Lama ia kupandang. Ia menunduk saja.  Kami makan sate kambing, enak panas pada malam yang dingin. Ia tergesa-gesa mau pulang saja. Duduknya resah seperti kursinya penuh kutu busuk.
23.       "Nggak usah malu kepada saya, Dik. Mari kita bercakap-cakap panjang lebar seperti di Front MKS.  Pantasnya kalau kawan seperjuangan bertemu bualnya keluar!"
"Tapi ...," ia memandang tak tetap kepadaku.
"Jangan main tetapi-tetapian, Dik Gun!"
24.       Ia minum seteguk besar dari gelas birnya. Lalu memandang lagi dengan liar kepadaku.
"Saya ...," ia memandang penuh permintaan kepadaku.  "Saya ditunggu istri aya, Mas."
25.       Aku tegak di kursi.  Gelas yang sedang aku pegang aku letakkan.  Heranku tak kusembunyikan.
"Istri?!"  Di cermin yang digantung di dinding sana aku lihat wajahku penuh dengan tanda tanya dan mataku melotot seolah-olah melihat Palguno menelan kodok hidup-hidup.
"Saya sudah kawin, Mas."
"Hlo-hlo-hlo-hlo!"
"Sudah hampir dua tahun."
"Dua tahun?"
26.       Ia mengangguk tersenyum sedikit malu.
27.       "Siapa? Dari mana? Bagaimana?" tanyaku seperti tembakan semi otomatik.
"Namanya..." ia tertegun sebentar, "...Kayatun."
28.       Ia berhenti sebentar. Memandang penuh penyelidikan kepadaku.
"Ia anak carik desa yang merawat saya waktu luka-luka."
"Hlo, Dik Gun pernah luka toh?"
"Kesikat watermantel Mas, di selatan Bantul.
"O."
"Ia waktu itu pelajar SMP hampir tamat."
"Jadi seorang war bride to?"
29.       Ia jadi kemalu-maluan lagi.
"Perkawinannya di mana ? Besar-besaran ?"
30.       Ia tak segera menjawab. Aku menunggu dengan sabar sambil minum beberapa teguk lagi.
"Ayah-Ibu tidak setuju, Mas."
"O, karena apa?"
"Karena ia anak desa."
"Hlo!"
"Biarpun pelajar SMP, tapi di mata mereka tetap anak desa.  Merendahkan martabat keluarga."
"Jadi bagaimana?"
"Saya paksakan," ia minum beberapa teguk lagi, merenung.  "Hubungan antara mereka dan saya terputus.  Mereka masih bangga akan martabat mereka.  saya juga mengerti, tapi saya tak dapat menginggkari kasih dan terima kasih."
"Masakan mereka tak dapat memaafkan?"
31.       Lama ia terdiam. Aku minum sambil melirik kepadanya.
32.       "Mereka baru-baru ini berkirim surat, rupa-rupanya mau menerima saya kembali, tetapi saya belum dapat melupakan perkataan-perkataan keras yang pernah terluncur."
"Allaa, jangan begitu keras kepala, Dik Gun.  Sama Belanda bisa damai kok sama ayah-ibu mau ngotot! Kan tidak sewajarnya."
"Akan saya pikirkan, Mas.Saya sudah terlanjur menempuh jalan sendiri. Sesungguhnya sejak umur 16 tahun saya telah menempuh jalan sendiri, akar-akar telah tercabut dari bumi kekeluargaan."
"Lalu pindah ke Jakarta bagaimana?"
"Setelah kawin saya pergi sendirian ke Jakarta, meneruskan sekolah. Tapi setelah tamat SMA, berat Mas. Entah karena saya bukan potongan sarjana atau karena asrama yang rame. Pendeknya hidup saya kacau, Mas. Uang KUDP tidak cukup untuk di Jakarta. Mas tahu sendiri."
33.       Aku mengangguk-angguk sangat setuju lalu minum lagi.
"Dalam pada itu, sang istri minta dijemput."
"Sudah semestinya." aku mengangguk-angguk lagi seperti gajah.
"Ia lulus ngetik lalu bekerja."
"Emansipasi wanita!" aku menyela.
"Saya sendiri berusaha belajar terus di Fakultet Hukum, meskipun sudahh dua tahun belum propaedeuse. Di samping itu mencatut kain batik dari Yogya.  Tapi istri saya hamil, lalu tak dapat bekerja terus. Kesukaran keuangan timbul. Lalu ini keluar lagi," ia menepuk-nepuk pistol di dalam sakunya.
34.       "Saya sudah putus asa, Mas." ia memandang dengan liar kepada jam dinding.
"Saya mau pulang Mas!"
"Kok kesusu benar, toh."
35.       Ia tak menjawab. Berdiri. Melemparkan pandang liar lagi kepada jam, kemudian memandang penuh permintaan kepadaku.
"Tadi pamitnya ke mana?" tanyaku tenang.
"Mengambil bidan, Mas. Bidannya sudah saya kirim ke rumah. Saya bermaksud mencari tambah uang untuk membiayai kelahiran bayi," perkataan-perkataannya mengalir keluar.
36.       Aku berdiri sekarang.
"Sudah tua hamilnya?"
"Setiap saat bisa keluar!"
"Mari!" kataku sambil mengeluarkan dompet.
37.       Rumahnya terletak di gang yang sempit, becek dan bau. Di muka pintu bambu itu ia berdiri sejurus.  Nyala lampu minyak menyorot keluar. Kami berpandang-pandangan. Dari dalam jelas kedengaran tangis bayi. Sesaat kemudian kami sudah ada di dalam rumah.
38.       Jam 11.00 malam aku minta diri. Aku cuma sebentar menjenguk istrinya dari pintu karena dipaksa-paksanya. Dengan bangga ia mendukung putra sulungnya keluar kamar tidur ke ruangan satunya, yang merangkap jadi kamar tamu, kamar makan dan dapur.
39.       "Dik Gun," aku memulai pidatoku, "Saya ucapkan selamat kepada kamu berdua  atas kelahiran putramu yang pertama. Mudah-mudahan ia tidak akan mengalami kesukaran-kesukaran angkatan kita sekarang ini."
40.       Palguno, Raden Ngabehi Palguno, putra seorang bangsawan pensiunan bupati, berdiri di tengah-tengah ruangan bbambu itu, besar perkasa dan bahagia. Bayinya kecil, merah dan cengeng terbaring pada urat-urat lengan bapaknya yang kukuh.
42.       "Sebentar Mas." ia masuk sebentar, kembali tanpa bayi.  Ia berdiri di depanku. Batuk-batuk kecil.
"Mas, maukah Mas Nug membantu saya seperti waktu di front MKS?"
43.       Dan aku teringat waktu seorang prajurit muda gemetar mengalami perploncoan tembakan di sampingku. Kini ia mengharapkan lagi bantuan pada saat-saat genting. Dan kesukarannya sekarang lebih besar. Sebagai orang normal aku merasa bangga, bahwa masih ada orang yang menaruh kepercayaan sebegitu besar kepadaku.
"Baik, Dik, baik!" aku mengangguk-angguk lagi dan mengulurkan tangan kananku.
44.       Tangan kanannya cepat-cepat dimasukkan ke dalam saku kanan celananya. Tangan kananku sudah mau kuturunkan lagi, ketika ia mengeluarkan tangannya itu dan mengacungkannya kepadaku. Di dalam tangan itu tergenggam Vickers jepang yang sudah tua, karatan dan tak berwadah peluru. Tetapi sebaliknya dengan tadi, bukan larasnya yang bertujuan kepadaku, melainkan popornya.


B. Tahapan Alur
1.    Tahap Permulaan (Exposition)
Tahap permulaan atau pengenalan, biasanya di tandai dengan pengenalan tokoh, reaksi antar pelaku, penggambaran fisik, dan penggambaran tempat, yang pada cerpen “Vikers Jepang” terdapat pada satuan peristiwa nomor 1-2
“Pada suatu malam yang kuyup dengan hujan aku pulang dari sebuah rendez-vous.  Sepedaku merk "Philips" buatan Surabaya, keadaannya sudah payah benar. Selain jalannya bergoyang-goyang karena rodanya tidak lurus, rantainya berbunyi pula, membikin lagu yang tidak nyaman. Air hujan merayap masuk via leher baju dan merembes ke dalam via jas hujan "Swan" kwalitet Rp. 90,00 yang tidak waterproof 100%. Dengan sebal aku menyenandungkan lagu "Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting ..." menirukan adikku dari SR kelas 1.”
“Kota Jakarta di bilangan Bungur Besar kalau malam jam 10.00 dan hujan begini, menmbulkan bayangan-bayangan yang mengecutkan hati seorang laki-laki normal. Karena aku masuk laki-laki normal, aku berusaha mengatasi bayangan-bayangan  seram itu dengan khayalan-khayalan yang nikmat-nikmat. Memang situasi ibu kota pada tahun 1951 belum seaman tahun 1954, dan jam malam juga masih ada pada jam 01.00.”

Dari kutipan tersebut Kota Jakarta kalau jam 10.00 sangat berbahaya, tetapi tokoh Aku baru pulang dari sebuah pertemuan pada jam 1.00.

2.    Tahap Pertikaian (Inciting Force dan Ricing Action)
Pada tahap ini, di tandai dengan awal mula terjadinya konflik. Seperti yang terdapat pada satuan peristiwa nomor 6-7
“Aku tahu, masih ada satu jalan simpang lagi sebelum tikungan yang ada lampunya. Jalan  itu sudah dekat. Kira-kira di tempat ada tonggak hitam di tepi jalan.  ya, ada tonggak hitam. Sesungguhnya terlalu besar untuk sebuah tonggak.  Apa tonggak betul ?  Tonggak betul ? Tonggak bergerak ?!  Orang. Tangan kanannya ditentangkan ke samping. Dengan sendirinya aku melambatkan laju sepeda, pedal tak kukayuh lagi. Aku sudah dekat kepadanya. Ia bertolak pinggang besar.”

“"Stop!" katanya kemudian. "Turun!" Aku menurut dengan patuh. Tiba-tiba tangannya menodong ke muka, suatu gerakan yang tak berguna bagiku, karena tanpa senjata itu pun aku tak sanggup melawan dia, karena tokohnya tokoh seorang Samson. Ia memakai jas hujan militer hijau tetapi pet yang dipakai seperti pet yang kupakai, model sport Inggris. Sosok tubuhnya yang ditekankan menutup mata, persis bandit picisan.”


Dari kutipan di atas Tokoh Aku ditahan dan ditodong oleh seorang yang berbadan kekar, dan bandit tersebut menggeledah saku celanaku.
3.    Konflik (Tahap Perumitan)
Pada tahap ini, terjadi peningkatan konflik dari konflik sebelumnya. Seperti yang terdapat pada satuan peristiwa nomor 9-10
“"Awas!" desisnya marah sambil menyodokkan laras senjatanya ke perutku, yang menyebabkan aku mengeluarkan bunyi yang tak dapat kutirukan. Setelah aku diam kembali, ia meneruskan pekerjaannya yang melanggar undang-undang itu. Mau tak mau mataku tertrik kepada senjata yang di benamkan ke dalam perutku. Bukan revolver, tidk ada silindernya; pistol jadi.  Merk apa ?  Aku terus mempelajari pistol itu, tak perduli dompetku berisi Rp. 12,25 pindah ke sakunya. Karena kami tak jauh benar dari lampu jalan itu, aku dapat melihat, bahwa senjata itu sebuah "Vickers Jepang". Apa nama sesungguhnya, aku tak tahu, tapi di Indonesia pistol itu terkenal dengan nama itu.”

“Setelah selesai menggeledah pakaiannya, ia menumpahkan perhatiannya kepada arloji tanganku. Karena melihat badanku yang tak seberapa itu, ia tak peduli tanganku kuangkat atau tidak. Ia menggenggam tangan kiriku untuk mencopot arlojinya; sayang bannya agak sukar membukanya kalau dengan tangan satu. Karena itu tangan kanannya ikut maju. Pistolnya sekali waktu membalik, dan terlihat olehku popornya tidak ada wadah pelurunya. Kosong melompong seperti teng bensin bocor.”

Dari kutipan tersebut Tokoh Aku tahu bahwa nama pistol itu adalah “Vikers Jepang”  Yang tidak ada pelurunya.

4.    Bagian Puncak (Klimaks)
Pada tahap ini, biasanya di tandai dengan ketegangan atau pertikaian yang semakin memuncak atau telah sampai pada puncaknya. Seperti yang terdapat pada satuan peristiwa nomor 11-18
“Serta merta mulutku sudah mengoceh lantang dengan cemooh yang tak tersembunyi, "Wah, nodong kok pakai Vickers Jepang kosong!"”

“Ia terkejut, sampai arlojiku yang sudah lepas, jatuh ke tanah. Sebentar ia memandangku dengan tak bergerak dan berkata. Kemudian ia mundur selangkah.”

“"Apa ? Kosong ? Mau rasa, apa ?" aksennya Jawa Tengah.”

“"Mau diisi satu-satu dari atas, apa ? Angel dong ngokangnya!" jawabku, juga pakai aksen Jawa Tengah.  Dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri karena sikapnya yang ragu-ragu, aku membungkuk dan memungut arlojiku. Ia membiarkan saja.”

“"Kok tahu ini Vickers Jepang?" tanyanya. Dan aku seperti sudah pernah kenal suara itu.
"Saya pernah pakai kok!"
"Di mana"
"Front MKS."
"Hlo! Front MKS!"
"Tahun 1947."
"Tahun 1947!"
"Agustus."
"Agustus?!"
"Pernah ke puring apa?" tanyaku.”

“"Puring?! Gombong Karanganyar?!" pistolnya sudah turun samasekali. Dan tiba-tiba aku tahu, siapa dia.”

“"Seksi Bima regu 2! Siapa yang pernah menangis di belakang pohon kelapa takut ambil steling di muka waktu ada serbuan?"”
"Mas Nug!!"
"Ya, saya ini."”

“Ia terpaku di aspal tak bergerak-gerak. Kaget campur malu rupa-rupanya.”

Dari kutipan tersebut Tokoh Aku tahu bahwa bandit itu adalah temannya waktu di Front MKS, dan bandit itu merasa malu.

5.    Tahap Peleraian (Falling Actiont)
Pada tahap ini, biasanya di tandai dengan penurunan konflik. Seperti yang terdapat pada satuan peristiwa nomor 19-21
“"Hla, kamu kok jadi bandit ini gimana, Dik?" tanyaku.”

“"Ini Mas!" dompetku dikembalikannya kepadaku. Aku masukkan kembali ke tempatnya dan kemudian arloji aku pakai.        Ia diam saja tak menjawab apa-apa. memandang gelisah kepadaku, memperhatikan aku menutup jas hujan kembali. Kemudian sepeda aku dekatkan kepadanya.
"tidak bawa sepeda, Dik?" ia menggelengkan kepala.
"Goncengkan saya kalau begitu," kataku dengan lagak komandan.”

“Kami duduk berhadap-hadapan dalam salahsatu warung di Medan Senen. Palguno waktu clash I kurus dan masih hijau. Ia anggota reguku. Waktu clash II kami berpisah. Baru sekali ini kami bertemu kembali. Apa yang baru terjadi sangat mengejutkan, karena Palguno adalah Raden Ngabehi Palguno, putra kedua seorang pensiunan bupati.”

Dari kutipan tersebut Tokoh Aku bingung mengapa Palguno menjadi bandit, karena masalahnya Palguno adalah putra kedua seorang pensiunan bupati.

6.    Tahap Akhir  (Conclusion)
Pada tahap ini, biasanya di tandai dengan penentuan nasib tokoh dalam cerita. Seperti yang terdapat pada satuan peristiwa nomor 39-44
“"Dik Gun," aku memulai pidatoku, "Saya ucapkan selamat kepada kamu berdua  atas kelahiran putramu yang pertama. Mudah-mudahan ia tidak akan mengalami kesukaran-kesukaran angkatan kita sekarang ini."”

“Palguno, Raden Ngabehi Palguno, putra seorang bangsawan pensiunan bupati, berdiri di tengah-tengah ruangan bambu itu, besar perkasa dan bahagia. Bayinya kecil, merah dan cengeng terbaring pada urat-urat lengan bapaknya yang kukuh.”

“"Sebentar Mas." ia masuk sebentar, kembali tanpa bayi.  Ia berdiri di depanku. Batuk-batuk kecil.

"Mas, maukah Mas Nug membantu saya seperti waktu di front MKS?"”

“Dan aku teringat waktu seorang prajurit muda gemetar mengalami perploncoan tembakan di sampingku. Kini ia mengharapkan lagi bantuan pada saat-saat genting. Dan kesukarannya sekarang lebih besar. Sebagai orang normal aku merasa bangga, bahwa masih ada orang yang menaruh kepercayaan sebegitu besar kepadaku.
"Baik, Dik, baik!" aku mengangguk-angguk lagi dan mengulurkan tangan kananku.”

Tangan kanannya cepat-cepat dimasukkan ke dalam saku kanan celananya. Tangan kananku sudah mau kuturunkan lagi, ketika ia mengeluarkan tangannya itu dan mengacungkannya kepadaku. Di dalam tangan itu tergenggam Vickers jepang yang sudah tua, karatan dan tak berwadah peluru. Tetapi sebaliknya dengan tadi, bukan larasnya yang bertujuan kepadaku, melainkan popornya.”

Setelah bayinya lahir, palguno meminta bantuan kepada Mas Nug seperti di Front MKS.


C.  Jenis Konflik
Cerpen Vikers Jepang termasuk jenis konflik manusia dengan manusia. Terdapat pada satuan peristiwa nomor 13-18
“"Apa ? Kosong ? Mau rasa, apa ?" aksennya Jawa Tengah.”

“"Mau diisi satu-satu dari atas, apa ? Angel dong ngokangnya!" jawabku, juga pakai aksen Jawa Tengah.  Dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri karena sikapnya yang ragu-ragu, aku membungkuk dan memungut arlojiku. Ia membiarkan saja.”

“"Kok tahu ini Vickers Jepang?" tanyanya. Dan aku seperti sudah pernah kenal suara itu.
"Saya pernah pakai kok!"
"Di mana"
"Front MKS."
"Hlo! Front MKS!"
"Tahun 1947."
"Tahun 1947!"
"Agustus."
"Agustus?!"
"Pernah ke puring apa?" tanyaku.”

“"Puring?! Gombong Karanganyar?!" pistolnya sudah turun samasekali. Dan tiba-tiba aku tahu, siapa dia.”

“"Seksi Bima regu 2! Siapa yang pernah menangis di belakang pohon kelapa takut ambil steling di muka waktu ada serbuan?"”
"Mas Nug!!"
"Ya, saya ini."”

“Ia terpaku di aspal tak bergerak-gerak. Kaget campur malu rupa-rupanya.”

D. Jenis Alur
Menggunakan alur maju karena ceritanya disampaikan secara runtut dari awal hingga akhir cerita (Terdapat tahapan-tahapan alurnya) terdapat pada satuan peristiwa nomor 1,2,3,4,5………44.
E.  Berdasarkan cara pengarang mengakhiri cerpen Vikers Jepang
Menggunakan plot tertutup, karena pembaca tidak bisa mengembangkan jalan cerita dari cerpen Mbah Danu. Terdapat pada satuan peristiwa nomor 44
“Tangan kanannya cepat-cepat dimasukkan ke dalam saku kanan celananya. Tangan kananku sudah mau kuturunkan lagi, ketika ia mengeluarkan tangannya itu dan mengacungkannya kepadaku. Di dalam tangan itu tergenggam Vickers jepang yang sudah tua, karatan dan tak berwadah peluru. Tetapi sebaliknya dengan tadi, bukan larasnya yang bertujuan kepadaku, melainkan popornya.”

Dari kutipan tersebut bahwa Palguno memberikan pistol tersebut kepada Tokoh Aku.


F.  Watak, Sikap dan Keadaan Para Tokoh
1.      Mas Nug/Tokoh Aku
Baik, dermawan, dan penakut. Semua ini di buktikan melalui perkataan dan tingkah laku Mas Nug/Tokoh Aku.
“Tiba-tiba aku kaget seperti di dalam mimpi. Karena gerak reflex, setang setir goyang, roda-roda kendor tambah oleng dan rem depan tanpa aku rem, mengerem sendiri. Dengan kutukan jahanam aku terdiri ke dalam comberan yang dingin. Segala keributan itu hanya karena ada kucing menyeberangi jalan. Seketika itu juga aku insaf, bahwa hujan agak reda. Lain daripada itu di kejauhan ada sebuah tiang lampu kelip-kelip melegakan hati yang gelap dingin seperti suasana. Karena hal-hal yang menyenangkan itu hatiku jadi besar. Dengan gemas sepeda kukayuh cepat-cepat, meskipun ratapnya tambah tak karuan.”
Aku berdiri sekarang.
"Sudah tua hamilnya?"
"Setiap saat bisa keluar!"
"Mari!" kataku sambil mengeluarkan dompet.

2.      Palguno
Baik, mandiri, menjadi bandit karena kebutuhan ekonomi. Dapat dibuktikan pada tingkah lakunya sendiri.
“Ia meneruskan pekerjaannya yang melanggar undang-undang”
"Akan saya pikirkan, Mas.Saya sudah terlanjur menempuh jalan sendiri. Sesungguhnya sejak umur 16 tahun saya telah menempuh jalan sendiri, akar-akar telah tercabut dari bumi kekeluargaan."

"Mengambil bidan, Mas. Bidannya sudah saya kirim ke rumah. Saya bermaksud mencari tambah uang untuk membiayai kelahiran bayi," perkataan-perkataannya mengalir keluar.


3.      Istri Palguno
Baik hati. Dapat dibuktikan pada perkataan Palguno ketika bercakap-cakap dengan Mas Nug.
“Ia anak carik desa yang merawat saya waktu luka”
4.      Orang tua Palguno
Jahat dan memandang sebelah mata. Dapat dibuktikan pada perkataan Palguno ketika bercakap-cakap dengan Mas Nug.
"Ayah-Ibu tidak setuju, Mas."
"O, karena apa?"
"Karena ia anak desa."
"Hlo!"
"Biarpun pelajar SMP, tapi di mata mereka tetap anak desa.  Merendahkan martabat keluarga."


G. Cara yang dilakukan pengarang untuk melukiskan keadaan tokoh-tokoh dalam cerpen Vikers Jepang
Dengan cara analitik. Karena watak, sikap dan keadaan tokoh-tokohnya dijelaskan secara langsung oleh pengarang. Ditunjukan pada kalimat.
Aku berdiri sekarang.
"Sudah tua hamilnya?"
"Setiap saat bisa keluar!"
"Mari!" kataku sambil mengeluarkan dompet.


Dalam kutipan tersebut jelas sekali bahwa pengarang dalam melukiskan tokoh Aku dilakukan secara langsung. Artinya langsung dilukiskan bagaimana sikap dan watak tokoh yang baik hati.
"Mereka baru-baru ini berkirim surat, rupa-rupanya mau menerima saya kembali, tetapi saya belum dapat melupakan perkataan-perkataan keras yang pernah terluncur."

"Allaa, jangan begitu keras kepala, Dik Gun.  Sama Belanda bisa damai kok sama ayah-ibu mau ngotot! Kan tidak sewajarnya."

"Akan saya pikirkan, Mas.Saya sudah terlanjur menempuh jalan sendiri. Sesungguhnya sejak umur 16 tahun saya telah menempuh jalan sendiri, akar-akar telah tercabut dari bumi kekeluargaan."


Dalam kutipan tersebut jelas sekali bahwa pengarang dalam melukiskan tokoh Palguno dilakukan secara langsung. Artinya langsung dilukiskan bagaimana keadaan fisik, sikap, atau watak dari tokoh Palguno.

Keadaan tokoh Palguno dilukiskan dengan cara analitik, yaitu pengarang menjelaskan secara langsung tokoh Palguno seperti pada kutipan.
"Setelah kawin saya pergi sendirian ke Jakarta, meneruskan sekolah. Tapi setelah tamat SMA, berat Mas. Entah karena saya bukan potongan sarjana atau karena asrama yang rame. Pendeknya hidup saya kacau, Mas. Uang KUDP tidak cukup untuk di Jakarta. Mas tahu sendiri."

H.  Titik Kisah
Tokoh Utama, pelaku utama. Karena pada cerpen Vikers Jepang, pengarang menggunakan tokoh Aku dan pengarang terlibat dalam cerpen tersebut.
Ditunjukan pada kalimat ”Pada suatu malam yang kuyup dengan hujan aku pulang dari sebuah rendez-vous.  Sepedaku merk "Philips" buatan Surabaya, keadaannya sudah payah benar. Selain jalannya bergoyang-goyang karena rodanya tidak lurus, rantainya berbunyi pula, membikin lagu yang tidak nyaman. Air hujan merayap masuk via leher baju dan merembes ke dalam via jas hujan "Swan" kwalitet Rp. 90,00 yang tidak waterproof 100%. Dengan sebal aku menyenandungkan lagu "Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting ..." menirukan adikku dari SR kelas 1.”
Jelas sekali pada kutipan tersebut pengarang menjadi tokoh utama dan pengarang terlibat dalam cerpen tersebut.
I.     Gaya
Cerpen di atas menggunakan gaya bahasa yang mudah dipahami. Tetapi pembaca harus focus memahami maksud yang ingin disampaiakan melalui cerpen tersebut.
Kemudian terdapat gaya bahasa yang digunakan dalam cerpen tersebut seperti pada kutipan kalimat berikut ini :
1.      Karena tokohnya tokoh seorang Samson. kata tersebut termasuk gaya bahasa hiperbola.
2.      Tenggorokanku kering seperti onderdil sepeda yang tak perna kena minyak. kata tersebut termasuk gaya bahasa hiperbola.
3.      Ia mendekati perlahan-lahan seperti kucing mendekati tikus. kata tersebut termasuk gaya bahasa hiperbola.
4.      Merembes ke dalam jas via jas hujan “Swan” kualitas Rp. 90.- yang tidak waterproof 100%. kata tersebut termasuk gaya bahasa metonimia
5.      Duduknya resah seperti kursinya penuh kutu busuk. kata tersebut termasuk gaya bahasa hiperbola.

J.    Latar atau Setting
1.    Latar Waktu
Latar waktu pada cerpen “Vikers Jepang” terdapat pada satuan peristiwa nomor 1.
“Pada suatu malam yang kuyup dengan hujan aku pulang dari sebuah rendez-vous.  Sepedaku merk "Philips" buatan Surabaya, keadaannya sudah payah benar. Selain jalannya bergoyang-goyang karena rodanya tidak lurus, rantainya berbunyi pula, membikin lagu yang tidak nyaman. Air hujan merayap masuk via leher baju dan merembes ke dalam via jas hujan "Swan" kwalitet Rp. 90,00 yang tidak waterproof 100%. Dengan sebal aku menyenandungkan lagu "Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting ..." menirukan adikku dari SR kelas 1.”

Cuplikan di atas membuktikan bahwa latar waktunya pada malam hari.

2.    Latar Alam
Latar alam pada cerpen “Vikers Jepang” terdapat pada satuan peristiwa nomor 5.
“Tapi kegelapan seolah-olah enggan melepaskan aku. Setiap ada simpang jalan menganga, dingin dalam hatiku bertambah sejuk. Rumah-rumah di tepi jalan tertutup rapat-rapat dan hitam oleh ketiadaan cahaya. Aku mengayuh terus cepat-cepat, damba akan lampu jalan.”

Cuplikan di atas membuktikan bahwa latar alam terdapat di sebuah jalan.
3.    Latar Ruang
Latar ruang pada cerpen “Vikers Jepang” terdapat pada satuan peristiwa nomor 38.
“Jam 11.00 malam aku minta diri. Aku cuma sebentar menjenguk istrinya dari pintu karena dipaksa-paksanya. Dengan bangga ia mendukung putra sulungnya keluar kamar tidur ke ruangan satunya, yang merangkap jadi kamar tamu, kamar makan dan dapur.”

Cuplikan di atas membuktikan bahwa latar ruangnya di rumah.

K. Struktur Cerpen dalam KURTILAS
1.    Abstrak
Pada suatu malam, aku barupulang dari sebuah pertemuan, aku mengayuh sepedahku dengan kencang karena malam sangat mencengkam, gelap, tidak ada siapa-siapa baik para pelacur maupun para pedagang. Di perempatan jalan aku di todong oleh bandit yang bertubuh kekar, bandit itu menggeledah saku celana dan ketika bandit itu membuka arloji, aku terus mengamati pistol yang sedang dipegang bandit itu, lama kelamaan aku tahu bahwa pistol itu adalah sebuah Vikers Jepang yang sama sekali  tidak ada pelurunya. Aku bicara lantang kepada bandit itu “kok nodong pakai vikers jepang kosong!”. Bandit itu terkejut sehingga ia menjatuhkan arlojinya ke tanah, dan aku langsung membawa arloji tersebut di bawah. Kami bercakap-cakap, aku mulai mengenalnya, dan ternyata ia adalah Palguno temanku dahulu di Front MKS. Aku heran mengapa Palguno menjadi bandit, karena ia adalah putra kedua seorang pensiunan bupati. Ternyata Palguno menikah dengan orang desa dan orang tuanya tidak setuju karena istri yang dinikahinya adalah orang desa, Kami mulai bercakap-cakap, dan ternyata Palguno sedang mencari tambahan uang untuk kelahiran anaknya di rumah. Aku mulai mengeluarkan dompet ku untuk membantu Palguno, dan mengantarkan Palguno kerumahnya sekalian silaturahmi. Sesampai dirumahnya terdengarlah tangisan bayi dari dalam rumah. Palguno meminta bantuan kepadaku dan memberikan Vikers Jepangnya kepadaku.
2.    Orientasi
Pada suatu malam yang kuyup dengan hujan aku pulang dari sebuah rendez-vous.  Sepedaku merk "Philips" buatan Surabaya, keadaannya sudah payah benar. Selain jalannya bergoyang-goyang karena rodanya tidak lurus, rantainya berbunyi pula, membikin lagu yang tidak nyaman. Air hujan merayap masuk via leher baju dan merembes ke dalam via jas hujan "Swan" kwalitet Rp. 90,00 yang tidak waterproof 100%. Dengan sebal aku menyenandungkan lagu "Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting ..." menirukan adikku dari SR kelas 1. Kota Jakarta di bilangan Bungur Besar kalau malam jam 10.00 dan hujan begini, menmbulkan bayangan-bayangan yang mengecutkan hati seorang laki-laki normal. Karena aku masuk laki-laki normal, aku berusaha mengatasi bayangan-bayangan  seram itu dengan khayalan-khayalan yang nikmat-nikmat. Memang situasi ibu kota pada tahun 1951 belum seaman tahun 1954, dan jam malam juga masih ada pada jam 01.00.
3.    Komplikasi
Aku tahu, masih ada satu jalan simpang lagi sebelum tikungan yang ada lampunya. Jalan  itu sudah dekat. Kira-kira di tempat ada tonggak hitam di tepi jalan.  ya, ada tonggak hitam. Sesungguhnya terlalu besar untuk sebuah tonggak.  Apa tonggak betul ?  Tonggak betul ? Tonggak bergerak ?!  Orang. Tangan kanannya ditentangkan ke samping. Dengan sendirinya aku melambatkan laju sepeda, pedal tak kukayuh lagi. Aku sudah dekat kepadanya. Ia bertolak pinggang besar. "Stop!" katanya kemudian. "Turun!" Aku menurut dengan patuh. Tiba-tiba tangannya menodong ke muka, suatu gerakan yang tak berguna bagiku, karena tanpa senjata itu pun aku tak sanggup melawan dia, karena tokohnya tokoh seorang Samson. Ia memakai jas hujan militer hijau tetapi pet yang dipakai seperti pet yang kupakai, model sport Inggris. Sosok tubuhnya yang ditekankan menutup mata, persis bandit picisan. Karena aku orang normal, jantungku mempercepat degupnya dan tenggorokanku kering seperti onderdil sepeda yang tak pernah kena minyak. Bandit picisan itu tak banyak bicara. Ia mendekat perlahan-lahan, seperti kucing mendekatii tikus. Tangan kirinya maju, membuka kancing jas hujanku. Tangan kanannya dengan senjata dekat ke perutku. Ia mulai meraba-raba saku celana. Aku begerak kegelian, karena rabaannya sembarangan. "Awas!" desisnya marah sambil menyodokkan laras senjatanya ke perutku, yang menyebabkan aku mengeluarkan bunyi yang tak dapat kutirukan. Setelah aku diam kembali, ia meneruskan pekerjaannya yang melanggar undang-undang itu. Mau tak mau mataku tertrik kepada senjata yang di benamkan ke dalam perutku. Bukan revolver, tidk ada silindernya; pistol jadi.  Merk apa ?  Aku terus mempelajari pistol itu, tak perduli dompetku berisi Rp. 12,25 pindah ke sakunya. Karena kami tak jauh benar dari lampu jalan itu, aku dapat melihat, bahwa senjata itu sebuah "Vickers Jepang". Apa nama sesungguhnya, aku tak tahu, tapi di Indonesia pistol itu terkenal dengan nama itu. Setelah selesai menggeledah pakaiannya, ia menumpahkan perhatiannya kepada arloji tanganku. Karena melihat badanku yang tak seberapa itu, ia tak peduli tanganku kuangkat atau tidak. Ia menggenggam tangan kiriku untuk mencopot arlojinya; sayang bannya agak sukar membukanya kalau dengan tangan satu. Karena itu tangan kanannya ikut maju. Pistolnya sekali waktu membalik, dan terlihat olehku popornya tidak ada wadah pelurunya. Kosong melompong seperti teng bensin bocor. Serta merta mulutku sudah mengoceh lantang dengan cemooh yang tak tersembunyi, "Wah, nodong kok pakai Vickers Jepang kosong!" Ia terkejut, sampai arlojiku yang sudah lepas, jatuh ke tanah. Sebentar ia memandangku dengan tak bergerak dan berkata. Kemudian ia mundur selangkah. "Apa ? Kosong ? Mau rasa, apa ?" aksennya Jawa Tengah. "Mau diisi satu-satu dari atas, apa ? Angel dong ngokangnya!" jawabku, juga pakai aksen Jawa Tengah.  Dengan penuh kepercayaan kepada diri sendiri karena sikapnya yang ragu-ragu, aku membungkuk dan memungut arlojiku. Ia membiarkan saja. "Kok tahu ini Vickers Jepang?" tanyanya. Dan aku seperti sudah pernah kenal suara itu.
"Saya pernah pakai kok!"
"Di mana"
"Front MKS."
"Hlo! Front MKS!"
"Tahun 1947."
"Tahun 1947!"
"Agustus."
"Agustus?!"
"Pernah ke puring apa?" tanyaku.
"Puring?! Gombong Karanganyar?!" pistolnya sudah turun samasekali. Dan tiba-tiba aku tahu, siapa dia.
"Seksi Bima regu 2! Siapa yang pernah menangis di belakang pohon kelapa takut ambil steling di muka waktu ada serbuan?"
"Mas Nug!!"
"Ya, saya ini."
Ia terpaku di aspal tak bergerak-gerak. Kaget campur malu rupa-rupanya.



4.      Evaluasi
"Mereka baru-baru ini berkirim surat, rupa-rupanya mau menerima saya kembali, tetapi saya belum dapat melupakan perkataan-perkataan keras yang pernah terluncur."
"Allaa, jangan begitu keras kepala, Dik Gun.  Sama Belanda bisa damai kok sama ayah-ibu mau ngotot! Kan tidak sewajarnya." "Akan saya pikirkan, Mas.Saya sudah terlanjur menempuh jalan sendiri. Sesungguhnya sejak umur 16 tahun saya telah menempuh jalan sendiri, akar-akar telah tercabut dari bumi kekeluargaan."
"Lalu pindah ke Jakarta bagaimana?"
"Setelah kawin saya pergi sendirian ke Jakarta, meneruskan sekolah. Tapi setelah tamat SMA, berat Mas. Entah karena saya bukan potongan sarjana atau karena asrama yang rame. Pendeknya hidup saya kacau, Mas. Uang KUDP tidak cukup untuk di Jakarta. Mas tahu sendiri."
Aku mengangguk-angguk sangat setuju lalu minum lagi.
"Dalam pada itu, sang istri minta dijemput."
"Sudah semestinya." aku mengangguk-angguk lagi seperti gajah.
"Ia lulus ngetik lalu bekerja."
"Emansipasi wanita!" aku menyela.
"Saya sendiri berusaha belajar terus di Fakultet Hukum, meskipun sudahh dua tahun belum propaedeuse. Di samping itu mencatut kain batik dari Yogya.  Tapi istri saya hamil, lalu tak dapat bekerja terus. Kesukaran keuangan timbul. Lalu ini keluar lagi," ia menepuk-nepuk pistol di dalam sakunya.
"Saya sudah putus asa, Mas." ia memandang dengan liar kepada jam dinding.
"Saya mau pulang Mas!"
"Kok kesusu benar, toh."
Ia tak menjawab. Berdiri. Melemparkan pandang liar lagi kepada jam, kemudian memandang penuh permintaan kepadaku.
"Tadi pamitnya ke mana?" tanyaku tenang.
"Mengambil bidan, Mas. Bidannya sudah saya kirim ke rumah. Saya bermaksud mencari tambah uang untuk membiayai kelahiran bayi," perkataan-perkataannya mengalir keluar.
Aku berdiri sekarang.
"Sudah tua hamilnya?"
"Setiap saat bisa keluar!"
"Mari!" kataku sambil mengeluarkan dompet.

5.    Resolusi
Rumahnya terletak di gang yang sempit, becek dan bau. Di muka pintu bambu itu ia berdiri sejurus.  Nyala lampu minyak menyorot keluar. Kami berpandang-pandangan. Dari dalam jelas kedengaran tangis bayi. Sesaat kemudian kami sudah ada di dalam rumah. Jam 11.00 malam aku minta diri. Aku cuma sebentar menjenguk istrinya dari pintu karena dipaksa-paksanya. Dengan bangga ia mendukung putra sulungnya keluar kamar tidur ke ruangan satunya, yang merangkap jadi kamar tamu, kamar makan dan dapur. "Dik Gun," aku memulai pidatoku, "Saya ucapkan selamat kepada kamu berdua  atas kelahiran putramu yang pertama. Mudah-mudahan ia tidak akan mengalami kesukaran-kesukaran angkatan kita sekarang ini." Palguno, Raden Ngabehi Palguno, putra seorang bangsawan pensiunan bupati, berdiri di tengah-tengah ruangan bbambu itu, besar perkasa dan bahagia. Bayinya kecil, merah dan cengeng terbaring pada urat-urat lengan bapaknya yang kukuh. "Sebentar Mas." ia masuk sebentar, kembali tanpa bayi.  Ia berdiri di depanku. Batuk-batuk kecil. "Mas, maukah Mas Nug membantu saya seperti waktu di front MKS?". Dan aku teringat waktu seorang prajurit muda gemetar mengalami perploncoan tembakan di sampingku. Kini ia mengharapkan lagi bantuan pada saat-saat genting. Dan kesukarannya sekarang lebih besar. Sebagai orang normal aku merasa bangga, bahwa masih ada orang yang menaruh kepercayaan sebegitu besar kepadaku. "Baik, Dik, baik!" aku mengangguk-angguk lagi dan mengulurkan tangan kananku. Tangan kanannya cepat-cepat dimasukkan ke dalam saku kanan celananya. Tangan kananku sudah mau kuturunkan lagi, ketika ia mengeluarkan tangannya itu dan mengacungkannya kepadaku. Di dalam tangan itu tergenggam Vickers jepang yang sudah tua, karatan dan tak berwadah peluru. Tetapi sebaliknya dengan tadi, bukan larasnya yang bertujuan kepadaku, melainkan popornya.


6.    Koda
Di dalam cerpen Vikers Jepang tidak terdapat koda atau tidak terdapat komentar akhir pengarang terhadap keseluruhan isi cerita.

L.     Ciri-Ciri Bahasa Cerpen
Menurut KURTILAS, cerpen memuat beberapa kata, yaitu:
1.      Kata Sifat
Kata sifat biasanya mendeskripsikan pelaku, penampilan fisik atau kepribadiannya. Pada cerpen “Vikers Jepang”, kata sifat terdapat pada kutipan tersebut.
Karena aku orang normal, jantungku mempercepat degupnya dan tenggorokanku kering seperti onderdil sepeda yang tak pernah kena minyak.”
“Alah, jangan begitu keras kepala dik Gun! Sama Belanda bisa damai kok sama Ayah-Ibu mau ngotot! ‘kan tidak sewajarnya”

2.      Kata Keterangan
Kata keterangan di dalam cerpen, digunakan untuk menggambarkan latar (waktu, tempat, dan suasana). Pada cerpen “Vikers Jepang” kata tersebut terdapat pada satuan peristiwa kesatu berikut ini.
Pada suatu malam yang kuyup dengan hujan aku pulang dari sebuah rendez-vous.  Sepedaku merk "Philips" buatan Surabaya, keadaannya sudah payah benar. Selain jalannya bergoyang-goyang karena rodanya tidak lurus, rantainya berbunyi pula, membikin lagu yang tidak nyaman. Air hujan merayap masuk via leher baju dan merembes ke dalam via jas hujan "Swan" kwalitet Rp. 90,00 yang tidak waterproof 100%. Dengan sebal aku menyenandungkan lagu "Tik-tik-tik bunyi hujan di atas genting ..." menirukan adikku dari SR kelas 1.”

“Kota Jakarta di bilangan Bungur Besar kalau malam jam 10.00 dan hujan begini, menmbulkan bayangan-bayangan yang mengecutkan hati seorang laki-laki normal. Karena aku masuk laki-laki normal, aku berusaha mengatasi bayangan-bayangan  seram itu dengan khayalan-khayalan yang nikmat-nikmat. Memang situasi ibu kota pada tahun 1951 belum seaman tahun 1954, dan jam malam juga masih ada pada jam 01.00.”

Dari cuplikan di atas, dapat diambil kesimpulan bahwa cerita “Vikers Jepang” berlangsung pada malam hari yang sunyi.
3.      Kata Kerja
Kata kerja pada cerpen digunakan untuk menunjukkan peristiwa-peistiwa yang dialami para pelaku. Pada cerpen “Vikers Jepang” kata kerja terdapat pada berbagai satuan peristiwa, seperti berikut ini.
“Serta merta mulutku sudah mengoceh lantang dengan cemooh yang tak tersembunyi, "Wah, nodong kok pakai Vickers Jepang kosong!"”

“Lama ia kupandang. Ia menunduk saja.  Kami makan sate kambing, enak panas pada malam yang dingin. Ia tergesa-gesa mau pulang saja. Duduknya resah seperti kursinya penuh kutu busuk.”

“"Saya paksakan," ia minum beberapa teguk lagi, merenung.  "Hubungan antara mereka dan saya terputus.  Mereka masih bangga akan martabat mereka.  saya juga mengerti, tapi saya tak dapat menginggkari kasih dan terima kasih."”

Cuplikan di atas memuat berbagai kata kerja, misalnya mengoceh, menunduk, merenung, dan mengingkari.
4.      Kata Ganti
Cerpen “Vikers Jepang” memuat dua kata ganti yaitu “Ia” dan “Kami”, seperti pada satuan peristiwa tersebut.

“Kami duduk berhadap-hadapan dalam salahsatu warung di Medan Senen. Palguno waktu clash I kurus dan masih hijau. Ia anggota reguku. Waktu clash II kami berpisah. Baru sekali ini kami bertemu kembali. Apa yang baru terjadi sangat mengejutkan, karena Palguno adalah Raden Ngabehi Palguno, putra kedua seorang pensiunan bupati.”

“Lama ia kupandang. Ia menunduk saja.  Kami makan sate kambing, enak panas pada malam yang dingin. Ia tergesa-gesa mau pulang saja. Duduknya resah seperti kursinya penuh kutu busuk.”

5.      Memuat Majas
Cerpen “Vikers Jepang” memuat majas hiperbola. Seperti pada kutipan tersebut.
“Karena aku orang normal, jantungku mempercepat degupnya dan tenggorokanku kering seperti onderdil sepeda yang tak pernah kena minyak.”

M.   Pembayangan
Cerpen “LEAK” memuat pembayangan, berupa tanda ataupun lambang. Sepeti berikut ini.
“Kota Jakarta di bilangan Bungur Besar kalau malam jam 10.00 dan hujan begini, menmbulkan bayangan-bayangan yang mengecutkan hati seorang laki-laki normal. Karena aku masuk laki-laki normal, aku berusaha mengatasi bayangan-bayangan  seram itu dengan khayalan-khayalan yang nikmat-nikmat. Memang situasi ibu kota pada tahun 1951 belum seaman tahun 1954, dan jam malam juga masih ada pada jam 01.00.”

“Di dekat emplasemen stasiun Senen, gelapnya seperti di dalam terowongan kereta api. Suara orang berlacur tidak ada di dala gerbong-gerbong yang berserakan di atas ril, Penjual sate Madura dan kueh putu juga semua lenyap. Jalanan sepi seperti kuburan.”

“Tiba-tiba aku kaget seperti di dalam mimpi. Karena gerak reflex, setang setir goyang, roda-roda kendor tambah oleng dan rem depan tanpa aku rem, mengerem sendiri. Dengan kutukan jahanam aku terdiri ke dalam comberan yang dingin. Segala keributan itu hanya karena ada kucing menyeberangi jalan. Seketika itu juga aku insaf, bahwa hujan agak reda. Lain daripada itu di kejauhan ada sebuah tiang lampu kelip-kelip melegakan hati yang gelap dingin seperti suasana. Karena hal-hal yang menyenangkan itu hatiku jadi besar. Dengan gemas sepeda kukayuh cepat-cepat, meskipun ratapnya tambah tak karuan.”

Cuplikan di atas merupakan pembayangan yang terdapat pada cerpen “Vikers Jepang”. Ada beberapa tanda berupa “kucing yang menyebrangi jalan” merupakan sebuah pembayangan atau pertanda bahwa akan ada sesuatu yang terjadi.
  
N.    Tegangan (Suspensi)
Ketegangan pada cerpen Vikers Jepang terdapat dalam kutipan :
“Tapi kegelapan seolah-olah enggan melepaskan aku. Setiap ada simpang jalan menganga, dingin dalam hatiku bertambah sejuk. Rumah-rumah di tepi jalan tertutup rapat-rapat dan hitam oleh ketiadaan cahaya. Aku mengayuh terus cepat-cepat, damba akan lampu jalan.”

O.      Nada (Feeling)
Sikap pengarang terhadap cerpen Vikers Jepang yang menyajikan masalah perekonomian, sehingga Palguno menjadi bandit, tetapi disamping itu Palguno bertemu dengan teman lamanya ketika menodong. Dapat dibuktikan kutipan tersebut.
“"Kok tahu ini Vickers Jepang?" tanyanya. Dan aku seperti sudah pernah kenal suara itu.
"Saya pernah pakai kok!"
"Di mana"
"Front MKS."
"Hlo! Front MKS!"
"Tahun 1947."
"Tahun 1947!"
"Agustus."
"Agustus?!"
"Pernah ke puring apa?" tanyaku.”

“"Puring?! Gombong Karanganyar?!" pistolnya sudah turun samasekali. Dan tiba-tiba aku tahu, siapa dia.”

“"Seksi Bima regu 2! Siapa yang pernah menangis di belakang pohon kelapa takut ambil steling di muka waktu ada serbuan?"
"Mas Nug!!"
"Ya, saya ini."”

“Ia terpaku di aspal tak bergerak-gerak. Kaget campur malu rupa-rupanya.”

“"Hla, kamu kok jadi bandit ini gimana, Dik?" tanyaku.”


Cuplikan di atas membuktikan bahwa Mas Nug dan Palguno adalah teman lama yang bertemu kembali setelah sekian lama.

P.     Suasana atau Tone
Perasaan yang timbul di hati pembaca setelah membaca cerpen Vikers Jepang yaitu merasa tegang, kasihan, dan terharu. Seperti pada kutipan.
Tapi kegelapan seolah-olah enggan melepaskan aku. Setiap ada simpang jalan menganga, dingin dalam hatiku bertambah sejuk. Rumah-rumah di tepi jalan tertutup rapat-rapat dan hitam oleh ketiadaan cahaya. Aku mengayuh terus cepat-cepat, damba akan lampu jalan.
“"Mereka baru-baru ini berkirim surat, rupa-rupanya mau menerima saya kembali, tetapi saya belum dapat melupakan perkataan-perkataan keras yang pernah terluncur."
"Allaa, jangan begitu keras kepala, Dik Gun.  Sama Belanda bisa damai kok sama ayah-ibu mau ngotot! Kan tidak sewajarnya."
"Akan saya pikirkan, Mas.Saya sudah terlanjur menempuh jalan sendiri. Sesungguhnya sejak umur 16 tahun saya telah menempuh jalan sendiri, akar-akar telah tercabut dari bumi kekeluargaan."
"Lalu pindah ke Jakarta bagaimana?"
"Setelah kawin saya pergi sendirian ke Jakarta, meneruskan sekolah. Tapi setelah tamat SMA, berat Mas. Entah karena saya bukan potongan sarjana atau karena asrama yang rame. Pendeknya hidup saya kacau, Mas. Uang KUDP tidak cukup untuk di Jakarta. Mas tahu sendiri."”

“Ia tak menjawab. Berdiri. Melemparkan pandang liar lagi kepada jam, kemudian memandang penuh permintaan kepadaku.
"Tadi pamitnya ke mana?" tanyaku tenang.
"Mengambil bidan, Mas. Bidannya sudah saya kirim ke rumah. Saya bermaksud mencari tambah uang untuk membiayai kelahiran bayi," perkataan-perkataannya mengalir keluar.”

Pada kutipan tersebut jelas sekali bahwa seorang pembaca akan merasa sedih dan terharu terhadap kisah hidup Palguno.

Q.    Tema (theme)

Tema cerpen Vikers Jepang yaitu tentang persahabatan karena menceritakan tentang kedua sahabat yang bertemu kembali.

No comments:

Post a Comment